Rangkuman Hasil Sidang Pertama BPUPKI (Lengkap)

3 min read

BPUPKI – Badan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam bahasa Jepang Dokuritsu Junbi Cosakai dengan cara pengucapan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau bisa juga Dokuritsu Junbi Chลsakai,ย adalah sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan balatentara.

Pemerintahan militer Jepang yang diwakili komando Angkatan Udara (AD) Ke-16 dan Ke-25 menyetujui pembentukan Badan Penyelidikan Upaya Persiapan Kemerdekaan Indonesia, pada 1 Maret 1945. Karena kedua komando ini berwenang atas daerah Jawa (termasuk Madura) dan Sumatera.

BPUPKI hanya dibentuk untuk kedua wilayah tersebut, sedangkan di wilayah Kalimantan dan wilayah-wilayah yang terdapat di bagian Indonesia Timur yang dikuasai komando Angkatan Laut (AL) Jepang tidak dibentuk badan serupa.

Pendirian BPUPKI ini sudah diumumkan oleh Kumakichi Harada (orang Jepang) pada tanggal 1 Maret 1945. Akan tetapi badan ini baru diresmikan pada tanggal 29 April 1945, bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito. Badan ini dibentuk sebagai upaya untuk mendapatkan dukungan dari bangsa Indonesia dengan menjanjikan bahwa Jepang akan membantu proses kemerdekaan Indonesia.

Disamping Itu, Pada Tanggal 29 April 1945 Jepang memperbolehkan berkibarnya Bendera Merah Putih berdampingan dengan Bendera Jepang.

BPUPKI beranggotakan 67 orang yang :

  1. Dr. Kanjeng Tumenggung (K.R.T) Radjiman Wedyodiningrat (ketua).
  2. Ichibangase Yosio sebagai (orang Jepang) (wakil ketua).
  3. Raden Pandji Soeroso sebagai (wakil ketua).
  4. Dan lain-lainnya sebagai anggota.
  5. Ir. Soekarno (anggota).
  6. Drs. Mohammad Hatta (anggota).
  7. Mr. Muhammad Yamin (anggota).
  8. Prof. Dr. Mr. Soepomo (anggota).
  9. KH. Wachid Hasyim (anggota).
  10. Abdoel Kahar Muzakir (anggota).
  11. Mr. A.A. Maramis (anggota).
  12. Abikoesno Tjokrosoejo (anggota).
  13. H. Agoes Salim (anggota).
  14. Mr. Achmad Soebardjo (anggota).
  15. Prof. Dr. P.A.A. Hoesein Djajadiningrat (anggota).
  16. Ki Bagoes Hadikusumo (anggota).
  17. A.R. Baswedan (anggota).
  18. Soekiman (anggota).
  19. Abdoel Kaffar (anggota).
  20. R. A. A. Poerbonegoro Soemitro Kolopaking (anggota).
  21. K. H. Ahmad Sanusi (anggota).
  22. K. H. Abdul Salim (anggota).
  23. Liem Koen Hian (anggota).
  24. Tang Eng Hoa (anggota).
  25. Oey Tiang Tjoe (anggota).
  26. Oey Tjong Hauw (anggota).
  27. Yap Tjwan Bing (anggota).
  28. Dan lain sebagainya

Selain anggota BPUPKI, dibentuk juga Badan Tata Usaha (mirip dengan sekretariat) dengan anggota berjumlah 60 orang :

  • Raden Pandji Soeroso sebagai (ketua).
  • Mr. Abdoel Gafar Pringgodigdo sebagai (wakil ketua).
  • Masuda Toyohiko (orang Jepang) (wakil ketua).

Tugas dari BPUPKI adalah mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek politik, ekonomi, tata pemerintahan, dan juga hal-hal yang diperlukan untuk pembentukan negara Indonesia merdeka.

BPUPKI dibubarkan pada tanggal 7 Agustus 1945 oleh Jepang. Kemudia membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dalam bahasa Jepang Dokuritsu Junbi Inkai, dengan anggota berjumlah 21 orang. Badan ini dibentuk dengan bertujuan untuk mencerminkan perwakilan dari berbagai suku di Hindia-Belanda.

Badan ini terdiri dari :

  • 12 orang asal Jawa.
  • 3 orang asal Sumatera.
  • 2 orang asal Sulawesi.
  • 1 orang asal Kalimantan.
  • 1 orang asal Nusa Tenggara.
  • 1 orang asal Maluku.
  • 1 orang asal Tionghoa.

 

Pada tanggal 28 Mei 1945 dilangsungkan Upacara Peresmian Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) bertempat di Gedung Cuo Sangi In, jalan Pejambon (sekarang Gedung Departemen Luar Negeri), Jakarta.

Sidang BPUPKI

Selama BPUPKI berdiri, telah diadakan dua kali persidangan resmi BPUPKI, dan juga adanya rapat-rapat yang tidak resmi oleh panitia kecil di bawah BPUPKI, yaitu adalah sebagai berikut :

  1. Sidang Resmi Pertama
  2. Sidang Resmi Kedua

Sidang Resmi Pertama

Sidang pertama dilangsungkan di gedung Chuo Sangi In, jalan Pejambon 6 Jakarta, saat ini dikenal dengan nama Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut adalah gedung Volksraad, Lembaga DPR pada zaman Kolonial Belanda.

Sidang dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema Dasar Negara. Sidang ini membahas dan merancang calon dasar Negara Republik Indonesia yang akan merdeka. Pada rapat pertama, terdapat 3 orang yang mengajukan pendapatnya tentang dasar Negara.

Pada tanggal 29 Mei 1945, Mr. Muhammad Yamin dalam pidato singkatnya mengemukakan 5 asas, yaitu :

  1. Peri Kebangsaan.
  2. Peri Kemanusiaan.
  3. Peri Ketuhanan.
  4. Peri Kerakyatan.
  5. Kesejahteraan Rakyat (Keadilan Sosial).

Pada tanggal 31 Mei 1945, Prof. Dr. Mr. Soepomo dalam pidato singkatnya mengusulkan 5 asas, yaitu :

  1. Persatuan.
  2. Kekeluargaan.
  3. Keseimbangan Lahir Batin.
  4. Musyawarah.
  5. Keadilan Rakyat.

Pada Tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno Mengusulkan 5 asas pula yang disebut Pancasila, yaitu :

  1. Kebangsaan Indonesia.
  2. Internasionalisme atau Perikemanusiaan.
  3. Mufakat atau Demokrasi.
  4. Kesejahteraan Sosial.
  5. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kelima asas dari Soekarno disebut Pancasila yang menurut beliau dapat diperas menjadi Trisila atau 3 Sila, yaitu :

  1. Sosionasionalisme.
  2. Sosiodemokrasi.
  3. Ketuhanan Dan Kebudayaan.

Bahkan menurut Soekarno, Trisila tersebut di atas bila diperas kembali. Disebutnya sebagai Ekasila yaitu merupakan Sila Gotong Royong merupakan upaya Soekarno dalam menjelaskan bahwa konsep tersebut adalah dalam satu-kesatuan.

Selanjutnya 5 asas tersebut kini dikenal dengan istilah Pancasila, namun konsep bersikap kesatuan tersebut pada akhirnya disetujui dengan urutan serta redaksi yang sedikit berbeda. Sementara itu, perdebatan terus berlanjut di antara peserta sidang BPUPKI mengenai penerapan aturan islam dalam Indonesia yang baru.

Masa antara sidang resmi pertama dan sidang resmi kedua

Sampai akhir dari masa persidangan BPUPKI yang pertama, masih belum ditemukan titik temu kesepakatan dalam perumusan dasar negara Republik Indonesia yang benar-benar tepat.

Sehingga dibentuklah “Panitia Sembilan” tersebut di atas guna mematangkan berbagai masukan dari konsep-konsep sebelumnya yang telah dikemukakan oleh para anggota BPUPKI itu.

Pada tanggal 22 Juni 1945, BPUPKI membentuk panitia kecil yang beranggotakan sembilan orang dan disebut dengan Panitia Sembilan.

Anggota dari Panitia Sembilan, yaitu:

  1. Ir. Soekarno (ketua).
  2. Drs. Mohammad Hatta (wakil ketua).
  3. Mr. Raden Achmad Soebardjo (anggota).
  4. Mr. Muhammad Yamin (anggota).
  5. KH. Wachid Hasyim (anggota).
  6. Abdul Kahar Muzakir (anggota).
  7. Abikoesno Tjokrosoejoso (anggota).
  8. H. Agus Salim (anggota).
  9. Mr. A. A. Maramis (anggota).

Sesudah dilakukannya musyawarah dengan Panitia Sembilan, menghasilkan suatu rumusan yang mendeskripsikan maksud dan tujuan dari pembentukan Negara Indonesia Merdeka. Oleh Mr. Muhammad Yamin, rumusan tersebut dinamakan Jakarta Charter atau Piagam Jakarta.

Rumusan tersebut yaitu sebagai berikut :

  • Ketuhanan Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-pemeluknya.
  • Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.
  • Persatuan Indonesia.
  • Kerakyatan Yang Dipimpim Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyarawatan Perwakilan.
  • Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Rancangan itu diterima untuk selanjutnya dimatangkan dalam masa persidangan BPUPKI yang kedua, yang diselenggarakan mulai tanggal 10 Juli 1945.

Diantara dua masa persidangan resmi BPUPKI, berlangsung pula persidangan tak resmi yang dihadiri 38 orang anggota BPUPKI.

Persidangan tak resmi ini dipimpin sendiri oleh Bung Karno yang membahas mengenai rancangan “Pembukaan (bahasa Belanda : “Preambule“)ย Undang-Undang Dasarย 1945”, yang kemudian dilanjutkan pembahasannya pada masa persidangan BPUPKI yang kedua (10 Juli-17 Juliย 1945).

Sampai disini dulu pembahasan soal sidang pertama BPUPKI, untuk sidang keduanya akan saya bahas di artikel selanjutnya.

Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar biar saya makin semangat untuk update artikel-artikel terbaru dan juga cerita-cerita pengalaman saya.

Jangan lupa untuk share artikel ini agar dapat dibaca banyak orang, hitung-hitung bisa menambah ilmu kita dan juga bisa saling berbagi pengalaman hidup kita, sampai jumpa di artikel berikutnya!!! seee yaaaaa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *